KR, Surat Kabar Tertua Setelah 40 Hari Kemerdekaan

oleh -284 Dilihat

TANGGAL 27 September 1945, atau 40 hari setelah kemerdekaan Indonesia, koran Kedaulatan Rakyat (KR) terbit untuk pertama kalinya di Yogyakarta. Dalam sejarahnya, surat kabar tersebut terbit karena alat perjuangan untuk melawan penjajah yang hingga saat ini tetap masih eksis.

Dilansir dari ceknricek.com, tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Setelah menguasai Sumatera dan Jawa, Jepang meluncurkan berbagai macam propagandanya agar dapat membantu mereka selama Perang Asia Pasifik berlangsung.

Ada beberapa strategi yang dilakukan Jepang. Salah satunya adalah dengan membentuk Sendenbu (Departemen Propaganda) dengan menerbitkan media propaganda bernama Sinar matahri. Tugasnya adalah untuk menyebarkan program-program politik pemerintahan Jepang.

Sinar Matahari terbit pertama pada 1 Juli 1942 dan dipimpin oleh Miyakawa. Hoofdredacteur atau pemimpin redaksinya RM Gondhojuwono dan Sekretaris Redaksi R Soemijatno Ardinoto.

RM Gondhojuwono merupakan mantan interniran Digul dan sebelumnya pernah bekerja di Dagblad Mataram (Surat kabar di zaman Belanda). Namun, Mahtisa Iswari meyebutkan, dalam tulisan bertajuk “Kedaulatan Rakyat: Saksi Jatuh Bangunnya Pemerintahan Indonesia” yang terhimpun dalam Seabad Pers Kebangsaan (2007), Sinar Matahari justru mewartakan berita-berita yang menguntungkan bangsa Indonesia, terutama setelah Jepang mengalami kekalahan beruntun dalam Perang Pasifik.

Pejuang-pejuang pers yang memotori pewartaan dalam upaya mendukung kemerdekaan Indonesia ini antara lain Bramono, Soemantoro, Moeljono, Samawi, Djoemadi, dan Moehammad Noer. Mereka inilah yang kemudian menjadikan surat kabar yang seharusnya menjadi media propaganda Jepang justru sebagai media informasi untuk masyarakat Indonesia.

Berita-berita yang diterbitkan Sinar Matahari itu menimbulkan ketidaksenangan militer Jepang. Akhirnya Sinar Matahari ditutup. Tidak lama berselang, Jepang benar-benar kalah dalam Perang Asia Pasifik. Kejadian ini juga disusul dengan momentum kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

Tanggal 27 September 1945, Sinar Matahari terbit kembali, namun dengan nama berbeda. Yaitu Kedaulatan Rakyat yang saat itu momentumnya pas dengan jiwa rakyat yang berkobar setelah kemerdekaan dan revolusi Indonesia.
Kedaulatan Rakyat dicetak dan diedarkan ke seluruh wilayah Yogyakarta dengan menggunakan sisa kertas harian Sinar Matahari. Nomor perdana belum mencantumkan nama pengasuh (anonim). Pada hari pertama berhasil dicetak 2.000 eksemplar. Pada hari kedua dicetak 3.000 eksemplar dan hari ketiga 4.000 eksemplar, semua habis terjual.

Melonjaknya pembaca karena berita yang diterbitkan Kedaulatan Rakyat gegap gempita memberikan sumbangan yang besar bagi para pejuang kemerdekaan, seperti berita Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, pernyataan Sultan Hamengku Buwana IX dan Paku Alam VIII yang menyatakan berdiri di belakang pemerintahan RI, serta seruan-seruan yang mengobarkan semangat juang para pemuda dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Susunan pengelola Kedaulatan Rakyat yang pertama, antara lain Bramono sebagai pemimpin umum, Soemantoro sebagai pemimpin redaksi, Samawi sebagai wakil pemimpin redaksi, Soeprijo Djojosoepadmo dan Mardisisworo sebagai staf redaksi.

Setelah melintasi berbagai generasi serta perubahan struktural di internal surat kabar tersebut, Kedaulatan rakyat tetap masih eksis dan menjadi salah satu surat kabar terbesar di Yogya dan Jateng khususnya bagian selatan. Di bawah PT BP (Badan Penerbitan) Kedaulatan Rakyat Group, lahir juga sejumlah produk media lainnya dengan payung Kedaulatan Rakyat. Antara lain, Koran Merapi, Swara Kampus, KR Radio, KRjogja.com dan yang lainnya. (Red-LJ)

No More Posts Available.

No more pages to load.